Im note fine part 1
Syakila pov
Gue panik karna mobil yang gue kendarai tiba tiba mogok disaat derasnya hujan mengguyur di sebuah jalan gelap dan sepi.
Ya karena ini sudah menunjukan pukul 11.36 malam, auto gue takut dong yaa.
Beberapa kali gue coba menelpon Kael. ya, dia Kaellang Arka Geovandra pacar gue.
Tapi gak ada jawaban sekalipun.
Yak, mungkin dia sedang sibuk dengan dunianya.
Yak, mungkin dia sedang sibuk dengan dunianya.
karena terakhir bertemu sore tadi katanya dia mau melakukan perjalanan ke Singapura karna Ibunya sedang sakit dan dirawat inap di sana.
Oon sangad emang gue ini, sudah tau masi aja nelpon Kael, maklum pemirsah efek panik ini teh.
Lalu gue coba nelpon Ayah, tidak menunggu waktu lama akhirnya telpon gw diangkat.
Syakila pov and
"Halo, Ayah. bisa jemput Akila. gak?
Akila takut " ucap Akila yang suaranya bergetar.
"Iya, nak. ada apa?Kamu kenapa?" Tanya Ayah Akila Panik.
"Mobil Akila mogok, di jalan sangat sepi Akila takut, Ayah". Jelas Akila
"Iya nak, Ayah segera kesana"
Akila adalah anak yang takut akan kegelapan, entah apa yang ada di fikirannya tentang kegelapan.
**☆**
Hendri ayahnya Akila pun segera beranjak dari kursi yang di dudukinya dengan ekspresi khawatir, sontak Tamara (Ibu Akila) pun heran.
"Baru aja di bawain teh hangat, udah mau pergi lagi. Mau kemana sih mas?.." ujar Tamara menyodorkan teh hangat ke meja.
"Iya.. Ayah mau kemana sih? " tanya juga Refalin (Kakak prempuan Akila).
"Aku harus menjemput Akila." ucap Hendri singkat. Sambil mencari kunci mobil.
"Loh.. bukannya Akila bawa mobil sendiri?" tanya Tamara yang sudah terpancar ekspresi khawatirnya.
"Mobil Akila mogok dijalan sepi, aku harus menjemputnya" tegasnya.
Hendripun segera keluar menuju bagasi mobil, tapi langkahnya tertahan saat tangan Tamara memegang tangannya berniat mencegahnya, Hendripun segera menoleh kebelakang.
"Apa gak suruh aja mang Ujang yang jemput Akila? Diluar sedang ujan deras mas, aku khawatir, prasaan aku gak enak "
ucap Tamana dengan nada khawatirnya. Sambil terus memeggangi pergelangan tangan suaminya.
ucap Tamana dengan nada khawatirnya. Sambil terus memeggangi pergelangan tangan suaminya.
"Tidak usah, Akila menelponku jadi biar aku yang jemput Akila, jangan khawatir aku akan baik-baik saja"
Hendri meyakinkan lalu melepaskan cengkraman Tamara dari pergelangan tangannya dengan sedikit senyuman. Dan segeralan melajukan mobilnya.
Hendri meyakinkan lalu melepaskan cengkraman Tamara dari pergelangan tangannya dengan sedikit senyuman. Dan segeralan melajukan mobilnya.
☆☆☆
Akila terus saja melirik ke arah jam tangannya sudah cukup lama ia menunggu, namun Ayahnya belum juga kunjung menjemputnya.
"Duhhh... Ayah mana sih gue takut ini, mana hujan, gelap, sepi lagi" racau Akila sambil melihat dari kaca mobil ke arah jalan dengan ragu-ragu.
"Loh, kok ada ambulance lewat sih? Jangan-jangan itu ambulance hantu lagi yang kayak di tv tv gitu.wahgelaseh,, eh bukan deh itu buktinya ada warga yang lagi lari marathon ngejar tu ambulance pakek payung ada juga sih yang ujan ujanan, haghag" pikirannya asal asalan,
dan Akila pun turun dari mobil.
dan Akila pun turun dari mobil.
Yaellahh dari tadi kek pada lari marathonya, kalo gitoh kan gue gak bakal kesepian.. guman Akila
Karna penasaran Akilapun menghentikan salahsatu peserta lari marathon tadi, eh enggak deng maksudnya salah satu yang ikut beramai ramai membuntuti ambulance tadi.
"Permisi pak, ada apa ya? ujan ujan gini Kok rame-rame mau pada kesana?" tanya Akila pada si bapak yang di hentikannya. Sambil menunjuk arah yang di tuju.
"Oh itu neng, ada yang kecelakaan mobilnya masuk jurang katanya, makannya saya sama warga lainnya mau liat neng" ucap si bapak dengan ekspresi ngerinya.
"Eeuuuu.. Saya ikut nebeng pakek payung kesana ya pak,
Lagian mobil saya juga mogok" ucap Akila dan di sambut anggukan si bapak.
Lagian mobil saya juga mogok" ucap Akila dan di sambut anggukan si bapak.
****
Setelah sampai Akilapun merapat ke kerumunan yang sudah diberi garis polisi sambil melihat jurang yang curam.
Melihat beberapa polisi dan relawan lainnya yang sedang mengepakuasi berusaha menyelamatkan korban dari dalam mobil tersebut meskipun hujan mengguyur.
"mobilnya? Tunggu. Mobilnya? Nggak.. nggak mungkin itu Ayah. Mungkin hanya mobilnya yang sama persis dengan mobil Ayah "
..guman Akila. Dan sesegera mungkin menepis fikiran negatifnya itu.
..guman Akila. Dan sesegera mungkin menepis fikiran negatifnya itu.
Setelah beberapa polisi dan relawan lainnya berhasil membawa korban tersebut dari dasar jurang.
Akila pun segera beranjak meninggalkan kerumunan.
di kerumunan tersebut beberapa warga sedang melihat korban tersebut yang telah dinyatakan meninggal.
Karna tidak ingin terlalu lama dalam situasi yang ngeri dan ditambah basah kuyup karna si bapak yang membawa payung entah kemana. Akilapun ingin segera kembali kemobilnya.
Namun sebelum itu Akila berniat menelpon Ayahnya yang sedari tadi belum juga kunjung menjempunya.
*****
Semua anggota keluarga sedang panik. Tamara dengan kedua anaknya sedang menunggu suami dan anak bungsunya yang belum juga kunjung pulang.
Ditambah dengan hujan deras yang mengguyur, petir dimana mana, seakan menambah aura kepanikan seorang istri sekaligus Ibu bangkit berkali-kali lipat.
Ditambah dengan hujan deras yang mengguyur, petir dimana mana, seakan menambah aura kepanikan seorang istri sekaligus Ibu bangkit berkali-kali lipat.
Tamara sedari tadi mondar-mandir terlihat di raut wajahnya ia sedang cemas.
"Mah, tenang yah.. Ayah sama Kila pasti bentar lagi pulang kok "
Ucap Refalin beranjak dari duduknya menghampiri mamanya yang sedang mondar-mandir dengan sesekali mengecek handphopnenya.
Refalin menghampiri mamanya untuk mencoba menenangkan mamanya.
Ucap Refalin beranjak dari duduknya menghampiri mamanya yang sedang mondar-mandir dengan sesekali mengecek handphopnenya.
Refalin menghampiri mamanya untuk mencoba menenangkan mamanya.
"Emangnya Ayah jemput Kila di jalan daerah mana sih?" tanya Arvind yang masih bingung dengan semuanya.
Karna ia baru saja pulang dari acara pertemuan dengan rekan kerjanya..
Karna ia baru saja pulang dari acara pertemuan dengan rekan kerjanya..
Arvind adalah sodara tertua Akila dan Refalin, meski umurnya yang masing terbilang cukup muda, ia sering bantu bantu di kantor Ayahnya, meski sesekali Ayahnya sering membantah untuk tida ikut campur dengan urusan kantor dan untuk fokus saja ke kuliahnya, namun Arvind selalu bilang ini keinginannya dan ia menyukainya.
Sedangkan Mamanya sama sekali tidak menggubris pertanyaan-pertanyaan anaknya..
******
Disaat Akila menghubungi Ayahnya, di saat itu juga Akila mendengar suara dering telpon yang sama persis dengan nada dering telepon di hp Ayahnya dari kerumunan, Akilapun menoleh. Dan menutup panggilannya.
di saat itu juga suara dering telpon itupun ikut berhenti berbunyi.
Akila mencoba menghubungi ayahnya kembali dan dering di kerumunanpun kembali berdering.
Dan begitulah yang dilakukan Akila beberapa kali untuk memastikan apa benar itu suara dering telpon ayahnya atau bukan.
di saat itu juga suara dering telpon itupun ikut berhenti berbunyi.
Akila mencoba menghubungi ayahnya kembali dan dering di kerumunanpun kembali berdering.
Dan begitulah yang dilakukan Akila beberapa kali untuk memastikan apa benar itu suara dering telpon ayahnya atau bukan.
Seketika raut wajah Akila memucat.
Yak jelas memucat karna Akila mendengar warga yng bilang
' handphone korban berdering '
Akila berlari menghampiri kerumunan tersebut.
Akila yang sudah di dalam kerumunan meminta ijin kepada polisi untuk membukakan kantong jenazah.
"Pak, boleh saya lihat korban tersebut? " Suara Akila bergetar.
"Iya tentu saja, siapa tau anda mengenalnya" sembari membukakan kantong jenazah.
Setelah terbuka, Akilapun melihatnya dengan syok,
Sungguh terkejut dan menangis bahwa korban tersebut memang benar Ayahnya.
Meski dengan luka di beberapa sudut wajahnya seperti terkena pecahan beling, namun ia masi sangat mengenalinya.
Tubuhnya melemas beriringan dengan air mata yang mengalir bersamaan dengan hujan.
Sungguh terkejut dan menangis bahwa korban tersebut memang benar Ayahnya.
Meski dengan luka di beberapa sudut wajahnya seperti terkena pecahan beling, namun ia masi sangat mengenalinya.
Tubuhnya melemas beriringan dengan air mata yang mengalir bersamaan dengan hujan.
"Enggak... Enggak mungkin ini Ayah.. " teriak Akila histeris, langsung memeluk Ayahnya yang berlumuran darah cair terkena air hujan, menggoncang-goncangkan tubuh Ayahnya yang terkurai kaku. tak pedulu dengan darah yang menempel di badan Akila ia hanya ingin Ayahnya sadar dan bangun dari kematian.
"Ayah... Ayah... Ayah bangun Ayah.. "
Tangisan Akila pecah, beberapa warga nampak menyaksikan dan mencoba menenangkan Akila.
Dan Kilapun pingsan di pelukan sang Ayah.
Tangisan Akila pecah, beberapa warga nampak menyaksikan dan mencoba menenangkan Akila.
Dan Kilapun pingsan di pelukan sang Ayah.
miskin kosa kata, tidak mengerti EYD, penempatan tanda baca acak-acakan. Karna saya masih pemula珞珞. Jadi maklum yaaa... hihi
Saya sangat menanti kritik dan saran dari kalian yang baca cerita ini.珞
Saya sangat menanti kritik dan saran dari kalian yang baca cerita ini.珞
-
Lopyu
Comments
Post a Comment